Sunday, September 14, 2008

Kasidahan vs Musik Modern

Santun saat mendendangkan, anggun saat menampilkan, sejuk dengan syair-syair pujian yang dapat menenangka hati yang mendengarkan. Al-Banjari atau Kasidahan sebuah musik yang dinyanyikan oleh orang-orang yang memiliki kualitas suara terpilih, sebab syair-syairnya juga tidak sembarangan. Dalam rangka mengisi Ramadhan 1429 H sebuah EO mengadakan perlombaan Acoustic dan Banjari, dimana pada saat penambilan acoustic penonton begitu antusias meneyaksikannya sampai berdesak-desakan. Dari 5 peserta yang tampil semuanya disambut dengan tepuk tangan yang meriah dari pengunjung atas penampilan mereka. Padahal lagunya juga nggak jelas, syairnya saja menurut saya nggak mutu, seperti lagu india. Yang mutu yang gimana ? yaa paling tidak setelah mendengarkan syairnya kita memiliki motifasi untuk melakukan sesuatu yang positif, bukan lalu termenung meratapi nasib dan pasrah dengan keadaan (sedikit tentang mutu syair lagu). Tibalah giliran Al-Banjari yang tampil, dalam hitungan menit sekitar panggung sepi penonton bubar, padahal yang akan tampil adalah syair-syair yang syarat makna tentang agama dan keimanan, kok malah kabur.

Sama agama sendiri aja nggak peduli !, seolah kehilangan sensivitas keimanan dan lebih mengagungkan dunia. Saya sedikit sedih, tapi saya coba untuk diskusi dengan panitia penyelenggara, peserta Kasidahan ini berasal dari mana, apakah lembaga ?, individu yang memang peduli dengan usrusan taqwa. Selidik punya selidik ternyata sebagian besar dari lembaga seperti pesantren. Beberapa saat mengamati penampilan Kasidahan ini, kenapa naik panggunggnya harus buka sepatu ? dan duduk bersila seperti lesehan ?. Apakah ini adab untuk menjaga keanggunan penampilan, nggak tahu juga persisnya, Tapi yang jelas semestinya pengelola musik ini harus mengikuti trend masyarakat agar dapat diterima oleh masayarakat luas, paling tidak penampilan seperti musik modern kan nggak dosa asal tidak sampai buka-buka aurat. Jenis lagu ini hanya diterima oleh orang-orang yang umurnya dah lebih dari setengah dari hidupnya, tafsirin sendiri maksudnya. Dan susah diterima oleh kalangan anak muda, padahal sangat bagus untuk membentuk mental dan pola pikir dan peran orang tua juga sangat penting untuk menanamkan kecintaanya terhadap agamanya.

Related Posts by Categories



Widget by Scrapur

Recent Comments

  © Blogger template 'Tranquility' by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP