Bisnis Bakrie Telecom Terbukti Mampu Tumbuhkembangkan Perusahaan
PT. Bakrie Telecom Tbk, terbukti mampu melewati krisis keuangan global dengan model bisnis berkonsep budget operator dan belanja modal serta operasional yang efisien. Hal ini disampaikan pada Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) di Jakarta, hari ini. Nampak jajaran Manajemen dan Komisaris saat menyampaikan laporan kepada para pemegang saham. Model bisnis PT Bakrie Telecom Tbk terbukti mampu meminimalisir dampak krisis keuangan global dan bahkan membawa perusahaan tumbuh ditengah iklim persaingan yang makin ketat di industri telekomunikasi Indonesia. Kekuatan model bisnis tersebut bertumpu pada struktur biaya yang rendah sesuai dengan konsep budget operator serta didukung oleh belanja modal dan operasional yang efisien.
Pandangan positif terhadap model bisnis Bakrie Telecom mengemuka dalam hasil pembahasan di Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) perusahaan hari Selasa kemarin di Jakarta (16/9/09). Berdasarkan pandangan tersebut maka para pemegang saham sepakat untuk mengangkat kembali seluruh jajaran direksi maupun komisaris perusahaan untuk periode kepemimpinan berikutnya. Pencapaian perusahaan selama tahun 2008 dianggap memuaskan dan dapat memenuhi target yang diharapkan sehingga pertumbuhan perusahaan terus menunjukkan hasil positif. ”Kami manfaatkan betul peluang yang ada dengan mengadopsi model bisnis ’Budget Telecom - Low Cost Operator’, menjaga dan menekan biaya, meningkatkan pendapatan dan strategi pemasaran yang inovatif dalam mencapai pertumbuhan yang berkesinambungan”, ujar Anindya N Bakrie , Direktur Utama PT Bakrie Telecom tbk di sela-sela acara RUPS di Jakarta Selasa kemarin.
Hasilnya Bakrie Telecom dapat mencapai target pertumbuhan pelanggan maupun kinerja keuangan yang menguntungkan. Pendapatan kotor perusahaan di tahun 2008 mencapai Rp 2.805,3 miliar atau naik 67,8% dibanding pencapaian pendapatan kotor perusahaan tahun sebelumnya sebesar Rp 1.672,0 miliar. Kenaikan pendapatan tersebut terutama didorong oleh faktor kenaikan laju pertumbuhan pelanggan yang mencapai 91,2%. Pada akhir tahun 2007 jumlah pelanggan Bakrie Telecom baru mencapai 3,8 juta sedangkan pada akhir tahun 2008 jumlah ini meningkat hingga mencapai 7,3 juta pelanggan. Pertumbuhan pendapatan kotor perusahaan diikuti pula dengan kenaikan pendapatan bersih. Di tahun 2008 Bakrie Telecom mencatat pendapatan bersih sebesar Rp 2.202,3 miliar. Jumlah ini meningkat 70,7% dibanding pencapaian pendapatan bersih perusahaan tahun 2007 sebesar Rp 1.289,9 miliar.
Sementara itu pencapaian positif diperlihatkan pula dari EBITDA perusahaan. Jika pada tahun 2007 EBITDA perusahaan sebesar Rp 545,4 miliar maka pada tahun 2008 EBITDA perusahaan tumbuh 50,9% menjadi Rp 822,7 miliar.Lebih lanjut Anindya menjelaskan contoh penerapan model bisnis yang mengutamakan efisiensi operasional. Hampir seluruh menara yang dimiliki perusahaan merupakan menara bersama. Bahkan proses penjualan 543 menaranya senilai Rp 450 Miliar pada PT Solusi Tunas Pratama telah selesai dilaksanakan dengan mulai diterimanya pembayaran sejak tanggal 1 Juni 2009 menyusul penandatanganan penyelesaian dokumen penjualan antara keduabelah pihak, berupa Sales & Purchase Agreement (SPA) dan Master Lease Agreement (MLA) pada tanggal 14 Mei 2009 lalu di Jakarta.
”Pembayaran ini menandakan tuntasnya proses penjualan menara Bakrie Telecom sekaligus terealisirnya ”asset light strategy” dimana vendor pemenang tender telah mulai melakukan pembayaran. Kini kami dapat lebih fokus pada bisnis inti guna mendukung langkah agresif perusahaan mengembangkan layanan telekomunikasi ke seluruh wilayah nusantara. Selain itu kami pun kini lebih tajam dalam mengembangkan program-program yang memiliki nilai tambah bagi pelanggan sehingga upaya peningkatan kualitas layanan pada pelanggan juga makin intensif”, ujar Anindya. Diharapkan langkah-langkah agresif pengembangan layanan ini dapat mendorong laju pertumbuhan pelanggan yang ditargetkan sebesar 10,5 juta pelanggan di tahun 2009 dan 14 juta pelanggan di tahun 2010. Jumlah pelanggan Bakrie Telecom sendiri hingga kuartal pertama 2009 telah mencapai 8 juta pelanggan.
Dana penjualan menara akan digunakan perseroan untuk belanja modal (capital expenditure) 2008 – 2010 yang nilai keseluruhannya mencapai US$ 600 juta. Belanja modal tersebut sebagian didapatkan dari right issue senilai Rp 3 Triliun yang telah dilakukan pada kuartal pertama 2008. Sedangkan sisanya didapat melalui skema vendor financing, kas internal perseroan, serta dari hasil penjualan tower ini.





















